Selasa, 16 Januari 2018

Kisah Nyata Penulis (Reffi Aprilia Sari)



JANGAN BULLY PENYAKIT SAYA
Nama saya Reffi Aprilia Sari, saya anak kedua dari 3 bersaudara, saya hidup bersama kedua orang tua dan juga kedua saudara saya. Saya sangat bahagia karena orang tua dan saudara sangat menyayangi saya walaupun keadaan keluargaku jauh dari kata mewah dan bergelimang harta, tapi saya merasa kebahagiaan saya tidaklah sempurna karena selalu dihantui oleh penyakit yang tidak kunjung sembuh. Bukannya saya tidak bersyukur kepada Allah SWT tetapi saya selalu merasa tersiksa oleh penyakit tersebut terlebih aku selalu mendapatkan hinaan dari teman-teman semasa waktu duduk di bangku sekolah SD, SMP, dan SMA
Saya masih sangat ingat sekali ketika saya jatuh sakit untuk pertama kalinya yang tidak kunjung sembuh sampai saat ini. Saya ingat waktu itu  masih duduk di kelas 3 SD, sepulang sekolah saya mengalami demam sangat tinggi dan disertai bengkak di rahang kiri bagian bawah. Kejadian itu membuat orang tua saya sangat khawatir kepadaku karena saya sangat terlihat kesakitan. Dua minggu berlalu rasa sakit pada rahang kiri saya memang sudah hilang tapi tidak dengan benjolannya, benjolannya masih tetap ada walaupun rasa sakitnya sudah hilang. Lalu saya harus masuk sekolah lagi karena sudah 2 minggu tidak masuk sekolah dan orang tua saya pun menyuruh agar saya masuk sekolah lagi. Saya lalu masuk sekolah seperti biasanya, tetapi teman-teman yang lain ketika melihat saya seperti melihat orang aneh karena memang rahang saya masih dalam keadaan bengkak. Ada sebagian teman yang menertawakan dan juga ada yang mengejek penyakitku. Ada salah seorang teman yang berkata “si Reffi kunaon nya bengeutna beut bareuh hahahaha” jika dalam bahasa Indonesia artinya “si Reffi kenapa ya mukanya kok bengkak hahaha” itu yang saya dengar dengan jelas, saya hanya bisa diam melihat perlakuan mereka yang saya rasa waktu itu adalah betapa jahatnya mereka. Aku merasa sangat kesal, sedih dan malu. Untungnya teman dekat saya yang bernama Putri mencoba menenangkan saya dan menyuruh diam pada teman yang sedang mengejek tersebut. Mereka terus menerus mengejek setiap harinya dan aku hanya bisa diam.
Waktu berlalu dan saya masih sering di bully dengan sebutan “Reffi gondok”, betapa sedihnya saya mendapatkan sebutan seperti itu dan saya pun tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menahan rasa sedih saja. Hingga sampai pada suatu hari saya merasa frustasi dan tidak ingin pergi ke sekolah karena kesal mendapatkan perlakuan tidak enak selalu di bully oleh teman. Saya menangis pada kedua orang tua bahwa saya sering dihina oleh teman di Sekolah. Mengetahui saya selalu diperlakukan seperti itu lalu orang tua saya mendatangi Guru kelas dan menceritakan keluhan mengenai teman yang selalu menghina dan membully saya. Akhirnya wali kelas saya menasehati beberapa orang yang sering membully saya.
Akhirnya orang tua saya memutuskan agar saya pergi berobat ke rumah sakit agar penyakit saya bisa sembuh. Setelah sesampainya di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung saya melakukan serangkaian tes untuk mengecek jenis penyakit saya apakah penyakit itu adalah sebuah kanker atau tumor. Saya melakukan tes darah, tes rotgen dan juga USG. Hasil tes menunjukan penyakit saya adalah kelenjar getah bening tetapi bukan termasuk kanker/tumor ganas. Dokter menyarankan agar di operasi secepatnya agar cairan didalam benjolannya tidak menyebar dan akan semakin membengkak. Tetapi ketika waktu operasi telah tiba Dokter tersebut malah membatalkan operasinya dengan alasan dokter tersebut masih ragu dengan penyakit yang saya derita. Saya masih ingat yang dokter tersebut katakana yaitu “jika anak ibu di operasi disini, saya khawatir muncul efek/resiko yang lain. Bahkan Dokter tersebut menyuruh saya agar melakukan operasi ke Singapura, orang tua saya sangat sedih sekali karena jangan kan untuk berobat ke Luar Negeri untuk berobat ke Bandung pun orang tua saya sudah mengeluarkan materi yang tidak sedikit dan uangnya pun hasil pinjaman. Saya melihat raut wajah Ibu dan Bapak saya, mereka sangat terlihat sedih dan kecewa mendengar ucapan dari dokter yang sudah tidak sanggup lagi menangani penyakit saya. Dan hari itu adalah hari terakhir saya berobat di RSU Hasan Sadikin Bandung.
Hari demi hari berlalu saya sudah lulus SD dan masuk sekolah SMP Negeri. Saya di SMP sudah belajar memakai kerudung karena memang di keluarga saya di wajibkan jika sudah baligh harus di hijab. Saya sangat behagia karena selain dapat menutup aurat, kerudung juga dapat menghalangi benjolan di rahang kiri saya. Namun semuanya tidak berrjalan dengan baik karena ketika memakai kerudung pun penyakit saya masih tetap terlihat oleh orang lain karena penyakitnya semakin parah. Bahkan teman-teman melihat saya seperti melihat alien apalagi anak-anak yang terkenal dan fisiknya bagus melihat saya seperti melihat orang aneh dan enggan berteman dengan saya. Bahkan ketika SMP saya hanya memiliki 1 teman dekat saja, untungnya dia sangat baik sekali selalu menemani di kala susah dan senang. Jadi saya tidak peduli jika saya tidak ada teman lain. Ketika di SMP memang saya tidak di bully secara terang-terangan seperti di SD akan tetapi mereka sepertinya enggan berteman dengan saya dan hanya akan menyapa jika ada butuh saja yaitu ketika ingin menyontek PR atau tugas.
Hari terus berlalu hingga sampai di hari kelulusan SMP dan akhirnya saya masuk ke SMA yang saya inginkan. Di SMA saya memiliki 2 sahabat, mereka setia menemani saya ketika sedih maupun sedang bahagia, merekalah yang membuat saya semangat sekolah setiap hari. Allhamdulilah ketika saya kelas 1 dan 2 SMA penyakit saya tidak terlalu parah karena saya sering menjaga pola makan dengan baik, akan tetapi ketika kelas 3 SMA penyakit saya kambuh kembali bahkan lebih parah dari sebelumnya mungkin karena saya terlalu kecapean. Peradangan bisa terjadi 2 kalidalam sebulan. Alhasil hasil belajar saya pun turun sangat drastis. Bahkan pada suatu hari ketika pelaksanaan UAS saya harus memaksakan ke sekolah dalam keadaan bengkak. Alhasil teman-teman saya khususnya anak laki-laki yang sedikit usil menertawakan penyakit saya. Saya hanya bisa sabar dan mencoba untuk tidak mempedulikan hinaan mereka karena saya sudah biasa menerima perlakuan seperti itu sejak SD dan SMP.
saya lebih memilih untuk tidak menghiraukan hinaan mereka karena saya yakin Allah SWT yang akan membalas perbuatan manusia yang seperti mereka. Waktu berlalu sekarang saya sudah duduk di bangku kuliah semester 5 di Sekolah Tinggi Keguruan dan Allhamdulilah penyakit saya sudah berangsur membaik walaupun belum sembuh total, benjolannya masih ada tetapi tidak terlalu terlihat. Saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan yaitu bersukur dan beribadah kepada Allah karena dengan diberinya kekurangan atau ujian saya harus lebih dekat kepada Allah SWT agar ujian berupa penyakit ini dapat menghapus dosa saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar