JANGAN BULLY PENYAKIT SAYA
Nama saya Reffi Aprilia Sari, saya anak kedua dari 3
bersaudara, saya hidup bersama kedua orang tua dan juga kedua saudara saya.
Saya sangat bahagia karena orang tua dan saudara sangat menyayangi saya
walaupun keadaan keluargaku jauh dari kata mewah dan bergelimang harta, tapi
saya merasa kebahagiaan saya tidaklah sempurna karena selalu dihantui oleh
penyakit yang tidak kunjung sembuh. Bukannya saya tidak bersyukur kepada Allah
SWT tetapi saya selalu merasa tersiksa oleh penyakit tersebut terlebih aku
selalu mendapatkan hinaan dari teman-teman semasa waktu duduk di bangku sekolah
SD, SMP, dan SMA
Saya masih sangat ingat sekali ketika saya jatuh sakit untuk
pertama kalinya yang tidak kunjung sembuh sampai saat ini. Saya ingat waktu itu
masih duduk di kelas 3 SD, sepulang
sekolah saya mengalami demam sangat tinggi dan disertai bengkak di rahang kiri
bagian bawah. Kejadian itu membuat orang tua saya sangat khawatir kepadaku
karena saya sangat terlihat kesakitan. Dua minggu berlalu rasa sakit pada
rahang kiri saya memang sudah hilang tapi tidak dengan benjolannya, benjolannya
masih tetap ada walaupun rasa sakitnya sudah hilang. Lalu saya harus masuk
sekolah lagi karena sudah 2 minggu tidak masuk sekolah dan orang tua saya pun
menyuruh agar saya masuk sekolah lagi. Saya lalu masuk sekolah seperti
biasanya, tetapi teman-teman yang lain ketika melihat saya seperti melihat orang
aneh karena memang rahang saya masih dalam keadaan bengkak. Ada sebagian teman
yang menertawakan dan juga ada yang mengejek penyakitku. Ada salah seorang
teman yang berkata “si Reffi kunaon nya bengeutna beut bareuh hahahaha” jika
dalam bahasa Indonesia artinya “si Reffi kenapa ya mukanya kok bengkak hahaha”
itu yang saya dengar dengan jelas, saya hanya bisa diam melihat perlakuan
mereka yang saya rasa waktu itu adalah betapa jahatnya mereka. Aku merasa
sangat kesal, sedih dan malu. Untungnya teman dekat saya yang bernama Putri
mencoba menenangkan saya dan menyuruh diam pada teman yang sedang mengejek
tersebut. Mereka terus menerus mengejek setiap harinya dan aku hanya bisa diam.
Waktu berlalu dan saya masih sering di bully dengan sebutan “Reffi
gondok”, betapa sedihnya saya mendapatkan sebutan seperti itu dan saya pun
tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menahan rasa sedih saja. Hingga sampai
pada suatu hari saya merasa frustasi dan tidak ingin pergi ke sekolah karena
kesal mendapatkan perlakuan tidak enak selalu di bully oleh teman. Saya menangis
pada kedua orang tua bahwa saya sering dihina oleh teman di Sekolah. Mengetahui
saya selalu diperlakukan seperti itu lalu orang tua saya mendatangi Guru kelas
dan menceritakan keluhan mengenai teman yang selalu menghina dan membully saya.
Akhirnya wali kelas saya menasehati beberapa orang yang sering membully saya.
Akhirnya orang tua saya memutuskan agar saya pergi berobat ke
rumah sakit agar penyakit saya bisa sembuh. Setelah sesampainya di Rumah Sakit
Hasan Sadikin Bandung saya melakukan serangkaian tes untuk mengecek jenis
penyakit saya apakah penyakit itu adalah sebuah kanker atau tumor. Saya
melakukan tes darah, tes rotgen dan juga USG. Hasil tes menunjukan penyakit
saya adalah kelenjar getah bening tetapi bukan termasuk kanker/tumor ganas. Dokter
menyarankan agar di operasi secepatnya agar cairan didalam benjolannya tidak
menyebar dan akan semakin membengkak. Tetapi ketika waktu operasi telah tiba
Dokter tersebut malah membatalkan operasinya dengan alasan dokter tersebut
masih ragu dengan penyakit yang saya derita. Saya masih ingat yang dokter
tersebut katakana yaitu “jika anak ibu di operasi disini, saya khawatir muncul
efek/resiko yang lain. Bahkan Dokter tersebut menyuruh saya agar melakukan
operasi ke Singapura, orang tua saya sangat sedih sekali karena jangan kan
untuk berobat ke Luar Negeri untuk berobat ke Bandung pun orang tua saya sudah
mengeluarkan materi yang tidak sedikit dan uangnya pun hasil pinjaman. Saya
melihat raut wajah Ibu dan Bapak saya, mereka sangat terlihat sedih dan kecewa
mendengar ucapan dari dokter yang sudah tidak sanggup lagi menangani penyakit
saya. Dan hari itu adalah hari terakhir saya berobat di RSU Hasan Sadikin
Bandung.
Hari demi hari berlalu saya sudah lulus SD dan masuk sekolah
SMP Negeri. Saya di SMP sudah belajar memakai kerudung karena memang di
keluarga saya di wajibkan jika sudah baligh harus di hijab. Saya sangat behagia
karena selain dapat menutup aurat, kerudung juga dapat menghalangi benjolan di
rahang kiri saya. Namun semuanya tidak berrjalan dengan baik karena ketika
memakai kerudung pun penyakit saya masih tetap terlihat oleh orang lain karena
penyakitnya semakin parah. Bahkan teman-teman melihat saya seperti melihat
alien apalagi anak-anak yang terkenal dan fisiknya bagus melihat saya seperti
melihat orang aneh dan enggan berteman dengan saya. Bahkan ketika SMP saya
hanya memiliki 1 teman dekat saja, untungnya dia sangat baik sekali selalu
menemani di kala susah dan senang. Jadi saya tidak peduli jika saya tidak ada
teman lain. Ketika di SMP memang saya tidak di bully secara terang-terangan
seperti di SD akan tetapi mereka sepertinya enggan berteman dengan saya dan
hanya akan menyapa jika ada butuh saja yaitu ketika ingin menyontek PR atau
tugas.
Hari terus berlalu hingga sampai di hari kelulusan SMP dan
akhirnya saya masuk ke SMA yang saya inginkan. Di SMA saya memiliki 2 sahabat,
mereka setia menemani saya ketika sedih maupun sedang bahagia, merekalah yang
membuat saya semangat sekolah setiap hari. Allhamdulilah ketika saya kelas 1
dan 2 SMA penyakit saya tidak terlalu parah karena saya sering menjaga pola
makan dengan baik, akan tetapi ketika kelas 3 SMA penyakit saya kambuh kembali
bahkan lebih parah dari sebelumnya mungkin karena saya terlalu kecapean.
Peradangan bisa terjadi 2 kalidalam sebulan. Alhasil hasil belajar saya pun
turun sangat drastis. Bahkan pada suatu hari ketika pelaksanaan UAS saya harus
memaksakan ke sekolah dalam keadaan bengkak. Alhasil teman-teman saya khususnya
anak laki-laki yang sedikit usil menertawakan penyakit saya. Saya hanya bisa
sabar dan mencoba untuk tidak mempedulikan hinaan mereka karena saya sudah
biasa menerima perlakuan seperti itu sejak SD dan SMP.
saya lebih memilih untuk tidak menghiraukan hinaan mereka
karena saya yakin Allah SWT yang akan membalas perbuatan manusia yang seperti
mereka. Waktu berlalu sekarang saya sudah duduk di bangku kuliah semester 5 di
Sekolah Tinggi Keguruan dan Allhamdulilah penyakit saya sudah berangsur membaik
walaupun belum sembuh total, benjolannya masih ada tetapi tidak terlalu
terlihat. Saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan yaitu bersukur dan
beribadah kepada Allah karena dengan diberinya kekurangan atau ujian saya harus
lebih dekat kepada Allah SWT agar ujian berupa penyakit ini dapat menghapus
dosa saya.